Jumat, 14 Desember 2018

Dilema dikotomi antara agama dan sains


Hasil gambar untuk agama dan sains

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Beberapa waktu yang lalu mungkin kita sempat dihebohkan dengan kabar bahwa orang terpandai di Bumi diera mordern ini meninggal dunia. Ya, siapa lagi kalau bukan Stephen Hawking. Dia meninggal dengan usia yang relatif tua, namun bukan itu yang akan saya bahas. Melainkan pernyataan beliau yang berbunyi sebelum kita mengenal sains, natural untuk percaya bahwa Tuhan mengenal alam semesta. Tapi sekarang sains menawarkan penjelasan yang lebih meyakinkan

Baiklah, saya akan mencoba memaparkannya seumum mungkin supaya tidak ada unsur kesalah pahaman. Baik, dalam pernyataan tersebut nampak jelas bahwa Si Stephen Hawking melakukan dikotomi pengetahuan dan dengan tegas menolak mengenai realitas keberadaan Tuhan. Hal ini pun diperkuat dengan pernyataan-pernyataannya yang secara nyata mengakui bahwa dirinya adalah seorang ateis. Dia berpendapat yang intinya bahwa, sains lebih dapat dijadikan alasan atau dasar yang lebih meyakinkan dalam mengungkap masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta, ketimbang harus percaya kepada Tuhan yang dianggap tidak mengerti mengenai alam semesta. Nah, disinilah masalah itu muncul. Mungkin bagi orang ateis ataupun saintis sekuler itu bisa diterima, namun tidak bagi orang agamis yang pada dasarnya percaya bahwa Tuhan adalah Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu pasti tidak dapat menerimanya. Pada dasarnya apabila kita ingin memahami alam semesta beserta fenomena-fenomena yang ada didalamnya, maka kita tidak bisa memisahkan atau mendikotomikan antara agama dan sains. Karena keduanya memiliki hubungan yang tidak bisa lepaskan. Walaupun, dalam kenyataannya masih saja ada yang memisahkannya.

Sebagai sedikit gambaran :
·         Saat kekeringan atau krisis hujan. Mungkin Sains akan berkata, “O, kalau ingin turun hujan maka harus dengan menabur garam dilangit dll” sedangkan Agama akan berkata “berdo’alah kepada tuhan” kalau dalam islam ada yang namanya sholat Istisqo yaitu sholat untuk meminta hujan.

·         Saat terjadinya hujan. Mungkin Sains akan berkata, “O, itu terjadi karena adanya proses hidrologi”  sedangkan Agama akan berkata “O, itu terjadi karena takdir Tuhan atas kehendak Tuhan”. 

·         Masalah mati dan kehidupan setelah mati. Mungkin Sains akan berkata, “dia mati karena serangan jantung, kanker dll” dan akan berkata “dia tidak akan hidup lagi” sedangkan Agama akan berkata “O, dia mati karena takdir Tuhan” dan dengan tegas akan berkata “dia akan hidup lagi dialam akhirat”

Sehingga dalam sedikit contoh diatas dapat dipahami bahwa Sains tidak bisa hanya mengandalkan penyelesaian suatu masalah hanya dengan lahiriyahnya saja, seperti contoh saat kekeringan, segala upaya telah dilakukan tapi tetap saja masih kekeringan maka Agama itulah yang dapat menyelesaikan seperti contoh melakukan sholat Istisqo. Hal ini berlaku sebaliknya, dalam Agama itu diharuskan untuk berihtiar dulu sebelum bertawaqal. Maksudnya, bukan melulu hanya berdo’a tanpa berusaha. Walaupun dalam banyak kasus bagi orang-orang tertentu dapat hanya dengan berdo’a saja.

Jelas sudah bahwa antara Sains dan Agama itu tidak dapat dipisahkan. Dalam Sains ada perkara-perkara yang hanya dapat dijelaskan oleh Agama dan dalam Agama pun sama, ada perkara-perkara yang dapat dijalaskan secara rinci dalam Sains. Sehingga anggapan yang menyatakan bahwa Sains lebih bisa meyakinkan ketimbang Tuhan itu tidaklah benar. Karena pada dasarnya semua ilmu bersumber dari Tuhan,  dan hanya Tuhanlah saja yang Maha Berilmu yang memberikan manusia akal sebagai modal awal untuk dapat mencari ilmu. Namun, jangan sampai ilmu atau pemahaman yang kita dapat ini malah membuat kita lupa akan keberadaan Tuhan.

Oleh sebab itu, maka sekarang ini ada yang namanya filsafat kesatuan ilmu yang tujuan utamanya adalah untuk berusaha menggabungkan kembali pendikotomian antara Agama dan Sains dengan memberikan bukti kebenaran bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Maka, di masa sekarang ini sudah seharusnya bagi masyarakat khususnya mahasiswa untuk lebih mendalami lagi masalah pemahaman dan pemikirannya. Jangan sampai dalam memandang sesuatu hanya megacu pada rasio atau akal atau pun satu sudut pandang saja, melainkan kita harus ingat bahwa kita punya hati atau perasaan yang meyakini bahwa segala kejadian pasti ada campur tangan dari Tuhan.
Nah, wahai pembaca sekalian maka dapat disimpulkan dari sedikit penjelasan tersebut sudah jelas bahwa, menjadi tugas kita bersama sebagai umat beragama untuk dapat membuktikan kepada para pendikotomi pengetahuan bahwa antara Agama dan Sains itu tidak dapat dipisahkan.

Itulah sedikit pembahasan dari saya, kurang lebihnya bila ada kesalahan harap dimaafkan.
Wasalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.





13 komentar:

  1. Sangatlah membantu.. Semoga bermanfaat

    BalasHapus
  2. Sangat bermanfaatπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ‘

    BalasHapus
  3. Sangat bermanfaat, tambah ilmu baru lagi

    BalasHapus
  4. Sangat bermanfaat. Tingkatkan lagi belajar dalam menulis artikel��

    BalasHapus
  5. Mau ambil pelajaran dikit bahwa jangan jadi manusia dunia yang nggak tau penciptanya. Sains itu ilmu dan objek yang dipelajari nggak mungkin ada tanpa ada yg nyiptain. Makasih nih ilmunya.. semoga jadi amal jariyah ☺☺

    BalasHapus